Pengendalian Emosi di Bulan Puasa

American psychological association (2020) mendefinisikan emosi sebagai pola reaksi yang kompleks, yang melibatkan pengalaman, perilaku, dan fisiologis, yang digunakan seseorang untuk menangani masalah atau peristiwa penting secara pribadi. Emosi bagi setiap manusia memiliki peranan yang penting dalam kehidupan. Menurut Atkinson, R (1991) emosi terbagi menjadi dua jenis, pertama emosi yang menyenangkan atau positif seperti cinta, kakasih sayang, gembira, kagum dan sebagainya. Kedua emosi yang tidak menyenangkan atau negatif seperti marah, benci, takut dan lain sebagainya.


Bulan Ramadan adalah bulan ke 9 dalam kalender Hijriyah. Pada bulan ini umat muslim diwajibkan untuk berpuasa karena puasa adalah salah satu dari rukun Islam yaitu yang ketiga. Dalam Alquran juga diterangkan bahwa puasa merupakan kegiatan yang telah ada sejak zaman dahulu. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Q.S Al-Baqarah (2:183) yang artinya "wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." Tujuan utama dari menjalankan puasa adalah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. 


Ketika menjalankan ibadah puasa, seseorang menjadi lebih tenang dan dapat mengontrol emosi dengan baik, karena saat berpuasa seseorang dapat mengontrol diri dari berbagai macam keinginan serta godaan baik berupa makanan, minuman, membicarakan orang lain atau mencaci maki dengan kalimat buruk yang biasa dilakukan ketika sedang marah. Apalagi orang-orang zaman sekarang sulit untuk mengontrol diri dalam membicarakan orang lain terutama tentang keburukan mereka serta berkata buruk yang disebabkan oleh adanya amarah dalam diri seseorang. 


Pada kesempatan kali ini kita akan membahas salah satu jenis emosi yaitu marah, semua orang tentu pernah mengalami emosi itu. Salah satu senjata yang digunakan oleh setan untuk menjebak manusia adalah marah. Dengan cara ini setan paling mudah mengendalikan manusia, karena ketika marah seseorang bisa dengan mudah mencaci maki dan mengatakan kalimat buruk. Marah juga luapan emosi yang sangat dibenci Allah subhanahu wa taala dan rasulnya. Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ath-thabrani "janganlah marah maka bagimu surga."


Oleh karena itu pengendalian emosi ini berfungsi untuk mengendalikan diri ketika menghadapi hal-hal yang seperti itu. Maka dari itu di bulan puasa ini kita bisa mencoba untuk memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan cara menjalankan ibadah puasa dengan bersungguh-sungguh karena hal itu akan menumbuhkan kecerdasan emosional yang berperan penting dalam pengendalian emosi. 


Kecerdasan emosional juga dapat mengendalikan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita seperti marah, sombong, iri, dengki, dendam dan lain sebagainya. Emosi marah sebenarnya bukan untuk kita tahan akan tetapi Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengendalikannya. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim "bukankah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."


Dalam perspektif Islam, ada beberapa cara untuk mengendalikan amarah yang dianjurkan Rasulullah SAW dalam hadits, 1. Diam dan menjaga lisan “Jika salah seorang diantara kalian marah, diamlah” (HR. Ahmad). 2. Mengambil posisi yang lebih rendah “Bila salah satu diantara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah” (HR. Abu Daud). 3. Berwudhu “Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu” (HR. Abu Daud). 4. Mengingat janji Allah SWT "barangsiapa menahan amarahnya, padahal dia mampu menerapkannya, maka dia akan Allah SWT panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat rumah sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dikehendaki" (HR. Abu daud, Turmudzi, dan Ibnu majah).


Pengendalian emosi dalam perspektif Islam juga memiliki kesinambungan dengan perspektif psikologi yaitu dengan meninggalkan hal-hal yang dapat menjadi pemicu emosi marah. Selain berdampak positif, apabila dalam keadaan marah bisa dikendalikan hal tersebut juga berdampak baik pada kondisi psikologis, supaya tidak menimbulkan pertengkaran atau permusuhan.


Komentar